Berhubung banyak yang menanyakan kontak tempat membuat
sepatu ortopedi, kuputuskan membuat postingan tersendiri saja. Jadi setelah
sepatu yang ini, Jenna sudah menggunakan sepatu ortopedi yang ke-4, kali ini aku
mendapat rekomendasi ahli ortetik lain dari terapisnya Jenna, yang mana rumah
pembuatnya lebih dekat, di sekitar parung, jadi nggak mesti jauh-jauh ke Ciseeng.
Namanya Pak Bebeng, sehari-hari dia berprofesi sebagai ahli
ortetik di RS. Siaga Raya Cipete. Jadi kalau kita ingin janjian untuk mengukur
sepatu ke rumahnya harus janjian dulu. Kalau dari ngobrol-ngobrol dengan belio,
sudah banyak yang order ke belio bahkan yang domisilinya dari luar pulau Jawa.
Untuk harga, hampir sama dengan tempat membuat sepatu
ortopedi Jenna yang sebelumnya, yaitu seharga Rp450.000 untuk sepatu AFO (harga
sebelah ya, bukan sepasang). Lama pembuatan sekitar 2 minggu dan setelahnya
kalau masih ada yang kurang cocok bisa di rombak lagi hingga dirasa pas di
kaki.
Berikut ini video saat dilakukan pengukuran kaki Jenna:
Sayangnya, sepatu yang ini tidak terlalu lama dipakainya,
karena Alhamdulillah pada bulan Januari 2018 kemarin, Jenna melaksanakan operasi
pemanjangan tendon achilles dan
hasilnya qodarullah berjalan baik. Sekarang kakinya sudah berjalan dengan tegak
dan tidak membutuhkan sepatu khusus lagi.
Untuk yang membutuhkan kontak tempat membuat sepatu
ortopedi, bisa menghubungi nomor dibawah ini karena kebetulan aku sempat diberi
kartu namanya:
Tempat Membuat Sepatu Ortopedi
Akhir kata, semoga
postingan ini bermanfaat untuk para orang tua yang sedang mencari tempat
membuat sepatu ortopedi dan adik-adik
yang mengalami masalah seperti Jenna bisa cepat normal dan pulih
kakinya,
yaa....
Berhubung banyak yang menanyakan kontak tempat membuat sepatu ortopedi, kuputuskan membuat postingan tersendiri saja. Jadi setelah sepa...
Jadi ceritanya, setelah fisioterapi di RS Medika BSD selama kurang lebih 2 bulan, ternyata kaki kanan Jenna yang jalannya jinjit tidak kunjung membaik. Sehingga oleh dokter rehab medik disana dirujuk ke dokter ortopedi agar dapat dilakukan operasi pemanjangan tendon. Awalnya aku sempet nanya apa nggak dikasih botox dulu, cuma katanya sih kalau botox biasanya akan balik lagi setelah beberapa bulan. Jadilah kami ke dokter ortopedi yang juga menyarankan untuk operasi pemanjangan tendon achilles karena memang tendon kanan pun sudah memendek sepanjang 1 cm.
Karena pindah rujukan, jadi kami harus mengurus rujukan dari awal lagi ke puskesmas dengan tujuan poli ortopedi. Prosesnya nggak lama sih, kurang lebih 2 minggu kami sudah dapat jadwal operasi. Sayangnya karena waktu itu dokternya bilang kalau pemulihannya cukup lama, bisa sekitar 4-6 minggu hingga gipsnya bisa dilepas dan setelah itu pun masih harus fisioterapi untuk belajar jalan lagi, jadilah kami galau siapa yang harus menjaga Jenna? Jadi kami minta jadwal operasnya diundur sampai kami selesai bermusyawarah.
Dan hasil musyawarah keluarga kami pun adalah.. tadaaa... yap, kuputuskan untuk resign saja dari kantor :D
Jadi setelah menyiapkan staff pengganti, dan mengurus segala sesuatunya berkenaan dengan proses resign dari kantor, diputuskan jadwal operasi pemanjangan tendon achilles Jenna akan dilangsungkan pada hari Selasa, 9 Januari 2018. Alhamdulillah biaya operasi tendon ini nol rupiah alias gratis karena semua di cover oleh BPJS. Jadi pada hari selasa pagi kami datang ke RS Medika BSD untuk daftar rawat inap, dan siang harinya langsung di operasi.
Jadwal operasi yang seharusnya jam 13.00 sempat molor karena ternyata hari itu banyak sekali yang di operasi. Untungnya Jenna nggak rewel dan cukup kooperatif (disogok pake streaming youtube sih :D). Dan, tepat jam 15.40, Jenna diminta masuk ruang operasi, untungnya aku boleh ikut ke ruang operasi dan menunggu sampai obat biusnya bekerja dan dia tertidur. Disitu aku baru tahu kalau proses bius total itu cepet banget. Dari sejak dinsuntikkan obat bius lewat infus hingga Jenna tertidur prosesnya hanya sekitar 5 detik saja.
Jenna selesai dioperasi sekitar pk. 16.30, Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Setelah sadar pun dia tidak mengeluh sakit atau apalah, selain mengeluh lapar dan haus :D Video Jenna pas baru sadar sempat aku dokumentasikan disini:
Malamnya Jenna menginap di RS, disini juga doi tampak begitu menikmati dan santai, nggak mengeluh apa pun, malah asyik nonton tivi sambil ngemil. Dan, ketika besok paginya oleh dokter dinyatakan boleh pulang, komentar doi adalah "Mah, kenapa sih aku nginepnya cuma sehari, aku mau kayak papa dulu pas di opname nginepnya 3 hari. " ^^;
Intinya, proses operasi pemanjangan tendon achilles Jenna berjalan lancar, kedua kaki nya sudah sama. Selanjutnya tinggal proses pemulihan kakinya pasca operasi dan fisioterapi untuk melancarkan jalannya.
Jadi ceritanya, setelah fisioterapi di RS Medika BSD selama kurang lebih 2 bulan, ternyata kaki kanan Jenna yang jalannya jinjit tidak k...
Sudah lama ingin ingin menulis ini, tapi baru sekarang kesampaian
membuat postingan Klinik Fisioterapi Anak , khususnya di
wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya. Mudah-mudahan ada yang terbantu.
Siapa tahu ada yang sedang mencari info klinik fisioterapi anak dengan
biaya yang terjangkau. karena sebelumnya aku juga sempat kesulitan mencari info
ini di internet. Oya, kalau yang baru pertama kali membaca blog ini mungkin
penasaran kenapa anakku, Jenna perlu di fisioterapi, bisa baca disini ya: Ketika Dokter Mendiagnosa Cerebral Palsy
Sebenarnya klinik fisioterapi anak itu cukup banyak.
Rata-rata, hampir semua Rumah Sakit yang ada dokter anaknya pasti memiliki
klinik fisioterapi. Untuk wilayah Tangerang Selatan sendiri, aku sudah pernah
mencoba fisioterapi untuk Jenna di beberapa Rumah Sakit, diantaranya RS. IMC
Bintaro, RS. Bunda Dalima, RSIA Buah Hati Pamulang, Eka Hospital dan beberapa
tempat lain. Namun memang tidak semuanya memuaskan, entah masalah kesulitan
menyocokkan jadwal, kemahalan, atau kurang 'sreg' sama terapisnya. Jadi, yang
aku rekomendasikan saat ini dua tempat saja yang Jenna cukup lama bertahan
terapinya.
1. Klinik Anakku
Ini klinik tempat pertama kali Jenna terapi. Waktu itu usia Jenna
4 bulan. Klinik Anakku ini khusus menangani masalah tumbuh kembang anak. Jadi,
dokter dan terapis yang menangani pun sudah terbiasa dengan anak- anak
berkebutuhan khusus. Klinik Anakku ini punya beberapa cabang, yang paling dekat
dari rumahku, ya di cabang Bumi Serpong Damai (BSD). Selain itu ada cabang di
Pondok Pinang dan Kelapa Gading juga kalau tidak salah. Info lengkapnya bisa
langsung ke websitenya di www.anakku.net
Klinik Anakku BSD
(sumber:googlemaps)
Sebenarnya sih kami cukup cocok dengan tempat fisioterapi anak ini dan juga
terapisnya. Sayangnya, karena mungkin pasiennya banyak, jadi memang untuk dapat
jadwal terapi harus antri. Dan dalam seminggu harus ditentukan hari apa dan
jam berapa. Kalau lebih dari dua kali nggak bisa datang langsung di drop ke
pasien lain dan harus antri jadwal ulang.
Karena waktu itu memang 'ngejar' keterlambatan Jenna dalam hal tengkurap dan
duduk, jadi ya di bela-belain ijin ke kantor setiap minggu untuk bisa nganter
fisioterapi kesini. Tapi lama- kelamaan nggak enak juga terus-terusan ijin.
Begitu Jenna sudah bisa duduk sendiri di usia 1 tahun, mulai kendor deh
terapinya. Alhasil di usia Jenna 1,5 tahun berhenti terapi. Soalnya jadwalnya
udah dikasih ke anak lain karena sering nggak datang, heuhe.
Btw, ini video Jenna ketika fisioterapi di Klinik Anakku BSD yang sempat
terekam kamera:
2. Klinik ACE Center
Depok
Klinik fisioterapi anak yang kedua adalah ACE Center Depok. Aku
dapat info tempat terapi ini dari hasil browsing google hingga
sampai ke websitenya disini Anwar Clinic And Education Center. Walaupun judulnya
Depok, tapi aslinya lokasinya di daerah Sawangan dan lebih dekat ke arah
Tangerang Selatan. Waktu itu kalau nggak salah usia Jenna 3 tahun. Rencana
mulai terapi lagi karena walau akhirnya bisa jalan, tapi jalan jinjit (sampai
sekarang, sih!). Dan kata dokternya itu bisa berpengaruh ke tulang
belakangnya.
Enaknya disini, karena tempat terapinya di rumah pribadi terapisnya, jadi
jadwalnya bisa fleksibel, yang penting sebelumnya infokan dulu via SMS/WA untuk
memastikan jam yang diinginkan kosong. Namun kelemahannya, karena waktunya
fleksibel ya jadinya kitanya suka mood-mood-an gitu buat terapi >_<
Awalnya Jenna sempet nangis-nangis setiap terapi karena terapisnya lelaki
(Jenna paling anti di pegang lelaki). Namun berkat kesabaran Pak Anwar (nama terapisnya),
akhirnya lama-lama Jenna luluh juga dan sekarang udah nggak nangis lagi kalau
dibawa terapi. Selain itu terapis yang ini lebih senior dibandingkan terapis
sebelumnya di Klinik Anakku BSD, jadi kutaksir jam terbangnya pun lebih banyak.
Dan, karena Pak Anwar aktif di facebook, jadi bisa sekalian konsultasi via
inbox FB, untungnya Pak Anwar ini baik hati dan tidak sombong, jadi selalu
bersedia jawabin pertanyaanku lewat inbox, hihihi (maap ya pak ngerepotin,
soalnya ini pasti dibaca sama Pak Anwar :p)
Selain melatih jalan jinjitnya, Jenna juga dilatih melancarkan koordinasi
motorik halus dan kasarnya, karena sampai umur 3 tahun, Jenna masih belum
mantap memegang pulpen ataupun sendok. Sebenarnya, latihan-latihan ini bisa
dilakukan sendiri di rumah. Asalkan kitanya telaten (ini yang sussaahh..). Dan,
yang paling utama dan harus dilakukan untuk menghilangkan kekakuan di kaki
jinjitnya yaitu, streching kaki!
Begini cara streching kaki yang dilakukan Pak Anwar dan juga
yang (seharusnya) sering kami lakukan di rumah:
Sampai saat ini, memang sih Jenna lebih sering kami streching kaki sendiri
di rumah. Selain itu karena sudah pakai sepatu AFO, harapannya semakin lama
bisa semakin membaik jalan jinjitnya.
Walaupun begitu memang harus ada kontrol perkembangannya, jadi beberapa
bulan sekali kami harus tetap kontrol ke terapis atau dokter rehab medik-nya. YAh, jadi begitulah kira-kira. Semoga tulisan tentang fisioterapi anak ini bisa membantu para orantua yang sedang mencari klinik fisioterapi untuk anaknya.
Sudah lama ingin ingin menulis ini, tapi baru sekarang kesampaian membuat postingan Klinik Fisioterapi Anak , khususnya di wilayah Tanger...
Sebagai orangtua yang memiliki anak balita, pasti khawatir ketika mendapati anaknya tampak juling. Entah juling itu sudah permanen atau hanya tampak sesaat. Namun ada pula yang cuek-cuek saja sehingga pada akhirnya mata juling pada anak balitanya sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Lalu kapankah kita harus waspada ketika mendapati mata anak kita tampak juling?
Perlu kita ketahui, bahwa bayi di usia 3-6 bulan sering tampak tidak fokus dan koordinasi mata kanan dan mata kiri tampak tidak seimbang. Hal ini masih wajar mengingat fokus mata bayi baru mulai optimal di usia ini. Namun jika juling pada bayi bertahan hingga usianya diatas 6 bulan, sebaiknya pertimbangkan ntuk memeriksakannya ke dokter.
sumber foto: pixabay
Selanjutnya aku mau cerita soal mata juling pada anak perempuanku, Jenna. Sebenarnya aku sudah cukup lama sadar bahwa mata Jenna agak juling keluar, mungkin semenjak usianya 1,5 tahun. Tapi karena waktu itu kami lebih fokus sama usaha untuk membuat Jenna bisa berjalan, jadi persoalan mata juling pada anak ini agak sedikit terbengkalai.
Pertama kali kami bawa Jenna periksa ke dokter mata, pas umurnya 3 tahun; langsung ke RS. Mata Cicendo Bandung yang memang dari track record cukup bagus dan jadi rujukan banyak orang bahkan dari luar pulau Jawa. Waktu itu, pemeriksaan tahap pertama Jenna disuruh menebak gambar untuk mengetahui minus matanya, prosesnya kurang lebih sama seperti ketika mata kita akan diperiksa untuk kacamata minus. Namun aku sedikit meragukan hasilnya, karena Jenna benar-benar nggak koperatif. Penyebabnya, perawatnya cowok sedangkan doi paling anti sama orang laki. Jadi diperiksanya sambil dipangku emaknya, itu pun sembari ogah-ogahan dan merajuk pengen pulang.
Proses yang agak bikin emaknya deg-degan adalah saat mata Jenna ditetesin cairan supaya retina matanya terbuka. Deg-degannya bukan apa-apa sih, karena ya itu tadi, karena perawatnya laki-laki, doi pasti nggak mau dipegang. Alhasil, seperti sudah diduga, Jenna jerita-jerit nangis dan berontak nggak karuan pas mau ditetesin cairan mata. Ditambah ternyata si cairan itu perih di mata. Makin menjadi-jadi deh tangisnya. Ditambah juga proses penetesan ini nggak cuma sekali, tapi tiga kali setiap 15 menit sekali. Jadi, lumayan juga rasanya pinggang waktu itu karena mesti gendongin dia hampir sejam biar nggak nangis.
Waktu di RS. Cicendo, kebetulan dokter yang khusus menangani mata juling pada anak sedang tidak ada, jadi digantikan oleh dokter mata umum. Dan, hasilnya memang Jenna ada sedikit juling keluar (eksotropia), namun tidak parah karena jika disuruh fokus, matanya masih bisa kembali ke posisi semula. Hanya saja penyebabnya ini yang masih belum diketahui, apakah memang dari otot mata-nya atau karena syaraf di otaknya (mengingat doi ada riwayat cerebral palsy).
Akhirnya dokter hanya menyuruh observasi dengan menggunakan kacamata dan diresepkan semacam vitamin mata. Jujur, karena waktu itu aku bener-bener 'bleng' soal per'juling'an ini, aku nggak kepikiran sama sekali mau nanya apa. Alhasil pembicaraan dengan dokter ini berlangsung cukup singkat, hanya sekitar 10 menit saja (agak nyesek sih mengingat perjuangan gendong-gendongnya aja menghabiskan waktu satu jam) -_-;
Dan, setelahnya pun, karena merasa julingnya nggak parah-parah amat dan merasa hasil minusnya kurang akurat, si kacamata ini pun jarang dipakai ^^; (jangan ditiru ya pemirsah). Sampai di usia Jenna yang sudah 4,5 tahun aku baru merasa perlu untuk memeriksakannya lagi. Kali ini inginnya sih benar-benar ke dokter spesialis mata anak. Namun kali ini, aku browsing-browsing dahulu di forum kaskus dan sempat menemukan sebuah thread yang disebut strabisclub. Setelah bergabung di grup WhatsApp-nya, aku banyak dapat informasi yang bisa menjadi bahan untuk pertanyaanku ke dokter mata nanti, diantaranya soal penggunaan kacamata prisma untuk mengatasi juling pada anak.
Akhirnya di awal bulan Januari 2017, aku mengambil cuti untuk pergi ke Bandung memeriksakan Jenna lagi (sekalian liburan, sih, hehehe). Kali ini kami ke RS. Borromeous bagian BCMC (Borromeous Children Medical Centre) dengan dr.Irawati Irfani, SpM.,M.Kes.
Pintu Masuk BCMC
Pertimbangannya mengajak Jenna kemari dan bukannya ke Cicendo, untuk membangun susasana yang menyenangkan buat Jenna biar hasil periksanya akurat. Karena di BCMC ini, kliniknya memang di khususkan untuk anak, ruangannya di desain menyenangkan dan ada tempat bermainnya. Jadi, anaknya nggak bosan menunggu. Dan, Alhamdulilah, kali ini perawatnya perempuan. Yang membuat Jenna mau koperatif sejak awal. Dan bahkan doi nggak nangis ketika matanya ditetesin cairan untuk membuka retinanya, "cuma perih sedikit," begitu katanya.
Jenna Membaca Huruf dari Jarak Jauh
Dari pemeriksaan kali, kami dapat info bahwa juling Jenna tidak bisa menggunakan kacamata prisma karena derajatnya cukup besar, yaitu 30 derajat. sementara penggunaan kacamata prisma hanya untuk juling di bawah 15 derajat. Penanganannya sama, sih, dengan pemeriksaan sebelumnya. Observasi. Jika frekuensi julingnya samakin sering dan semakin permanen, baru akan dipertimbangkan opsi lain. Selain itu Jenna kembali diresepkan kacamata dan vitamin mata. Lalu diminta kontrol kembali setelah 6 bulan pemakaian.
Di BCMC ini nggak banyak foto-foto yang sempat kuambil karena awalnya nggak kepikiran untuk bikin artikelnya. Yang banyak malah poto-poto selfie papanya dan adeknya Jenna. Jadi mesti cukup puas dengan dua foto saja :D
Oya, kamaren-kemaren sih aku sempat merasa kalau mata Jenna sudah jarang "lari-lari keluar" lagi. Tapiternyata beberapa kali tertangkap kamera masih lumayan sering 'lari' keluar. Kayak di foto ini:
Jenna dan Papa
Update:
Sekarang ini, Jenna sedang kucoba dengan terapi menutup sebelah mata yang aktif agar matanya yang juling lebih aktif bergerak, Penutupnya sejenis plester untuk mata yang disebut patch eye. Videonya bisa dilihat disini:
Sebagai orangtua yang memiliki anak balita, pasti khawatir ketika mendapati anaknya tampak juling. Entah juling itu sudah permanen atau hany...
Jenna dan Sepatu AFO-nya (ya ampun, susah banget di fotonya -_-)
Sudah lama berniat membuat postingan tentang sepatu ortopedi Jenna lagi, sebagaimana kujanjikan di artikel sebelumnya (yang mana itu sekitar 2,5 tahun yang lalu, pemirsah). Tapi ya begitulah, sampai akhirnya Jenna udah buat sepatu ortopedi yang ketiga dan si artikel tidak kunjung kubuat :'D
Jadi pada kesempatan kali ini, aku mau sedikit bercerita tentang Jenna dan sepatunya. Kalau yang sudah baca artikel sebelumnya, mungkin sudah tahu kalau kaki kanan Jenna jinjit sehingga agak kesulitan berdiri tegak. Tapi Alhamdulilah, tepat di usia 2 tahun, akhirnya Jenna bisa jalan juga. Saat ini Jenna sudah hampir 5 tahun, sudah lancar jalan, tapi kaki yang kanan masih tetap jinjit.
Mungkin ada yang berpikir, loh kok masih jinjit? Lalu apa gunanya pakai sepatu terapi/sepatu ortopedi?
Jadi, awalnya memang kami mengira penyebab Jenna jinjit murni karena kebiasaan akibat penggunaan baby walker. Tapi ketika Jenna umur 3 tahun dan kami melihat kakinya masih juga jinjit, akhirnya kami konsultasikan kembali ke beberapa dokter, mulai dari dokter ortopedi, dokter syaraf di luar kota, dokter rehab medik dan ujung-ujungnya sih tetep aja balik lagi ke dokter anak sub spesialis syarafnya Jenna di Klinik Anakku BSD, yaitu dr. Setyohandryastuti. Dan hampir kesemua dokter mendiagnosa Jenna terkena Cerebral Palsy Hemiplegia bagian kanan.
Singkat kata, kaki kanannya Jenna bukan sesuatu yang bisa disembuhkan secara permanen. Yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan fungsinya dan menjaganya supaya tidak bertambah parah. So, Jenna sempat juga loss tidak pakai sepatu sejak umur sekitar setahun karena kami melihat sepetinya penggunaan sepatu ortopedi sebelumnya (jenis thomas heel) tidak terlalu memberikan hasil signifikan (doi tetep bisa jinjit walau udah pake sepatu itu!). Jadi penanganan yang kami lakukan hanya melakukan streching kaki kanannya sesering mungkin.
Nah, ndilalah, di bulan Oktober 2016 kemarin, Jenna terkena serangan kejang yang ketiga kalinya. Semenjak itu entah kenapa aku melihat kaki kanannya semakin kaku. Jadi, kembalilah aku berkonsultasi dengan dokter-dokter diatas dan kali ini dokter rehab medik merekomendasikan penggunaan sepatu ortopedi anak jenis AFO (Ankle Foot Orthosis). Sepatu AFO adalah alat bantu menyerupai kaki, dan memiliki fungsi utama sebagai alat bantu ortopedi yang mampu memfiksasi sendi ankle atau lebih tepatnya pada tendon achiles untuk mempertahankan posisi kaki pada bentuk anatomi normal manusia (terdengar keren kan bahasanya, itu aku copas kok dari: www.bisamandiri.com :D)
Sepatu AFO Jenna sebelah kanan
Aku pesan di ahli ortosis yang sama dengan tempat pertama kali pesan sepatu ortopedi anak yang thomas heel.Harganya kurang lebih setengah harga kalau kita pesan di rumah sakit, yaitu Rp450.000. Ini harga sebelah ya pemirsah, bukan sepasang. Kalau harga sepatu AFO sepasang adalah Rp750.000. Selain itu karna ternyata menurut ahli ortosisnya Jenna pasti kalau tidur lutut kanannya gak pernah lurus, terlihat dari posturnya. Yang baru saat itu kusadari bahwa ini benar adanya. Jenna memang selalu menekuk kaki kanannya ketika tidur. Karena itu oleh ahli ortosisnya dibuatkan juga splint lutut yang digunakan untuk membalut lutut kanannya ketika tidur agar tidak melulu ditekuk. Oya, harga splint lutut ini Rp300.000. Sepatu AFO ini dipakai selama mungkin, bahkan ketika tidur. Awalnya Jenna mengeluh kesakitan, terutama saat dipakai tidur. Aku lihat tumitnya juga memerah. Namun lama kelaman sepertinya mulai terbiasa dan sekarang sudah tidak mengeluh kalau terlalu lama pakai. Tapi kalau tidur tetep ngeluh sih, mungkin karna jadi ga bebas bergerak. Hingga saat ini aku cukup merasakan perubahan yang signifikan, kakinya jadi tidak terlalu kaku lagi seperti setelah kejang kemarin. Walau sayangnya, tetap saja dia jinjit! Karena sudah kebiasaan kali, yaa! Yah, begitulah ceritaku kali ini tentang penggunaan sepatu AFO, Sepatu Ortopedi Jenna yang ketiga. Semoga bisa jadi referensi untuk para orang tua yang sedang mencari sepatu ortopedi untuk anaknya.
Untuk melihat video pemakaiannya bisa cek disini:
Jenna dan Sepatu AFO-nya (ya ampun, susah banget di fotonya -_-) Sudah lama berniat membuat postingan tentang sepatu ortopedi Jenna...
Ini kali kedua aku mencoba cara menggunakan BPJS di puskesmas Jombang Ciputat. Sebelumnya aku menggunakannya ketika akan mengurus surat rujukan untuk kelahiran anak keduaku. Nah, berhubung plafon kesehatan untuk reimbursment di kantor sudah habis, jadilah kemarin ketika aku sakit, cuss pergi ke puskesmas Jombang untuk berobat dan minta dibuatkan surat ijin.
Ceritanya beberapa hari yang lalu, mendadak aku mules-mules dan mencret. Biasanya kalau sudah begitu aku minum sendiri itu diapet dan beberapa hari kemudian sembuh sendiri. Tapi baru kali itu, mencretku disertai demam tinggi dan meriang di malam harinya. Badan jadi lemah, letih lesu dan kurang bergairah (oke, ini lebai..). Bisa jadi karena ketika itu aku sedang haid juga sehingga kumat lah itu si anemia.
Sehingga keesokan paginya, aku ijin masuk kerja dan pergi ke puskesmas ditemani Jenna. Aku memang sudah beberapa kali mencoba cara menggunakan BPJS di Puskesmas Jombang Ciputat untuk meminta rujukan anak-anakku. Dan juga untuk meminta rujukan ketika akanmelahirkan dengan BPJS.Tapi baru kali itu menggunakan fasilitas dokter umumnya untuk diriku sendiri.
Aku datang jam 7.30 pagi dan kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda, apakah itu?
Jreng...jreng...jreng....
Inilah dia MESIN PENCETAK NOMOR ANTRIAN!! (dibaca dengn gaya doraemon)
Mesin Pencetak Nomor Antrian
Ternyata, kali ini Puskesmas Jombang Ciputat sudah pakai mesin untuk mengambil nomor antrian pendaftaran sodara-sodara. Canggih kan? Secara sebelumnya hanya menggunakan nomor panggilan dari kertas yang dilaminating biasa.
Namun sepertinya mereka harus terus menerus memproduksi nomor antrian karena banyak orang-orang yang kerap lupa membawa nomor antrian sampai ke rumah alih-alih mengembalikannya ke loket (I did, hahaha).
Oke, kembali ke topik utama kita. Yaitu mencret.
Jadi, aku mendapat nomor antrian pendaftaran BPJS nomor 16. Yah, langsung makin lemes. Mana belum sarapan.
Tapi untunglah, panggilannya cepet. Hanya menunggu sekitar 15 menit dan nomorku langsung dipanggil. Aku cukup menyerahkan fotokopi kartu BPJS dan menyebutkan akan berobat di klinik apa. Petugasnya akan mencatat dan memberiku nomor antrian di klinik tujuan. Aku dapat nomor 3 untuk antrian di klinik. Alhamdulilah. Rupanya, 15 orang di antrian pendaftaran sebelumku tidak semuanya menuju klinik umum, ada yang ke klinik anak, paru, gigi dan apalagi ya, aku lupa. Yang pasti, rupanya puskesmas jombang ini cukup lengkap pelayanannya.
Antrian Klinik BPJS
Setelah itu sembari menunggu dokternya, aku ditimbang dan di tensi. Ternyata tensiku rendah banget, Cuma 80/50. Pantesan aja dari kemaren kalau jalan seakan melayang-layang. Kurang makan dikit aja pandangan ini berkunang-kunang.
Tapi yang membuatku bahagia sodara-sodara, berat badanku ada di angka 65! Biasanya mentok di 67. Hore! Kenyataan ini membuatku gak lemes lagi. Walau tetep sih laperrr….. Jadi weh sambil nunggu dipanggil, aku dan Jenna beli bubur ayam dulu di depan puskesmas.
Pas selesai makan bubur ayam, ternyat kliniknya sudah nomor 4. Untungnya boleh nyela. Langsung masuk ruangan dan diperiksa serta curhat-curhatan sama dokternya. Sama belio ini aku diresepkan obat mencret yang harus diminum 2 kapsul sekali minum. Selain itu ada penurun panas, obat mual dan vitamin penambah darah. Yang Alhamdulilah, semuanya gratis.
Setelah selesai mengambil obat dan poto-poto (penting, ni). Aku langsung pulang dan minum tuh obat. Alhamdulilah, besoknya sudah baikan. Frekuensi mencretnya sudah tidak sesering sebelumnya. Udah gak demam juga walau masih agak keliyengan.
Kesimpulannya, cara menggunakan BPJS di puskesmas Jombang Ciputat ternyata cukup mudah, tidak ribet dan berbelit-belit. Tempatnya juga bersih, nyaman dan yang terpenting, ada tukang bubur ayam di depan puskesmasnya buat yang gak tahan lapar macam aku
Ini kali kedua aku mencoba cara menggunakan BPJS di puskesmas Jombang Ciputat. Sebelumnya aku menggunakannya ketika akan mengurus sura...
Kejang memang menjadi momok yang mengerikan
terutama untuk orangtua yang memiliki anak balita. Bagaimana tidak, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Sehingga kejang yang
berkepanjangan dan terus menerus, bisa merusak fungsi otak dan berpengaruh
terhadap kemampuan hidup manusia secara umum. Untuk itulah kita sebagai
orangtua perlu mengetahui seluk beluk kejang pada anak agar bisa menyikapinya
dengan tepat.
Secara umum, kejang dibagi menjadi dua jenis,
yaitu kejang demam dan kejang tanpa demam.
Disini aku tidak akan membahas panjang lebar mengenai kejang demam
karena informasinya bisa banyak kalian temukan di mesin pencarian. Intinya
kalau kejang demam, pemicunya adalah demam. Entah itu demam yang tinggi ataupun
biasa- biasa saja. Sehingga salah satu solusinya adalah dengan menurunkan suhu
tubuh anak yang sedang kejang. Sementara kejang tanpa demam, butuh penanganan yang lebih kompleks.
Kejang Tanpa Demam, Epilepsi kah?
Kalau menurut yang aku baca di website IDAI (Ikatan Dokter Indonesia), jika seorang anak mengalami kejang berulang 2 kali atau lebih pada episode yang berbeda dan tidak ada penyebab lain (unprovoked seizure), maka anak tersebut sudah dikatakan epilepsi.
Karena itu, kali ini aku
inginberbagi tentang kejang tanpa demam yang pernah beberapa kali dialami
anak perempuanku, Jenna. Oya, sebelumnya, ketika umur Jenna 2 bulan, dia sudah pernah
di diagnosa epilepsi setelah dokter syaraf di kota kelahirannya di Bandung melihat ada gerakan-gerakan yang sedikit
tidak wajar ketika dia tidur, dan hasil Elektroensefalografi (EEG) -nya ketika itu memang menunjukan adanya
gelombang epileptiformis sehingga saat itu dia sempat mengkonsumsi Obat Anti
Kejang (OAE) jenis barbital selama kurang lebih dua
bulan.
Setelah umurnya 3 bulan, aku kembali ke kota asalku, sehingga aku mencari dokter syaraf anak di Tangerang Selatan. Kali itu aku berkonsultasi
dengan dr. Setyohandryastuti di Klinik Anakku BSD, sebuah klinik tumbuh kembang
untuk anak berkebutuhan khusus. Oleh dr. Handry, Jenna disarankan EEG ulang
dan Alhamdulilah hasilnya sudah normal. Sehingga ketika umurnya 7 bulan, Jenna
resmi bebas dari konsumi OAE.
Setelah itu aku sama sekali tidak pernah lagi
memikirkan soal kejang ini sampai pada bulan Agustus 2014, ketika kami sedang
tidur, tiba-tiba aku terjaga karena seperti mendengar suara mengecap aneh dari
arah Jenna yang ketika itu seharusnya sedang tidur.
Ketika kubalikkan badannya, ternyata matanya
mendelik ke arah kanan dengan mulut yang juga miring ke kanan dan mengeluarkan
air liur banyak sekali. Aku yang panik langsung berteriak membangunkan suamiku.
Waktu itu aku pikir Jenna kena stroke.Karena kupanggil-panggil pun dia seperti
tidak sadar. Langsung tanpa pikir
panjang kami bawa Jenna ke Unit Gawat Darurat (UGD) di RS. IMC Bintaro.
Oleh dokter jaga disana, Jenna diberi OAE
lewat dubur namun tak kunjung ada perubahan. Barulah ketika oleh dokternya
dibuka paksa mulutnya, secera reflek dia seperti memuntahkan sesuatu yang
ternyata lendir yang cukup banyak disertai potongan makanan yang tidak
tercerna, dan akhirnya menangis tersadar.
Ketika itu dokter UGD menyimpulkan bahwa kejang yang terjadi dikarenakan Jenna tersedak potongan makanan ketika sedang tidur, sehingga menghambat jalan nafasnya. Setelah kejadian itu, aku juga belum terlalu 'ngeh' dengan kejang ini. Hanya saja untruk menghindari tersedak, aku selalu meminta Jenna minum air putih yang banyak sebelum tidur.
Namun ternyata setahun kemudian, kejangnya berulang. Dengan ciri-ciri yang sama dan terjadi saat dia sedang tidur. Karena berfikir kali ini pun penyebabnya sama, maka aku dan suami berinisiatif membuatnya muntah. Tapi ternyata setelah muntah, tidak ada potongan makanan seperti dulu, hanya saja memang dahaknya teramat kental. Dan setelah muntah kejangnya langsung berhenti disertai dengan badannya yang lemas sehingga dia kembali tertidur.
Kali ini, aku berinisiatif membawanya ke dokter syaraf anak di Tangerang Selatan, yang sebelumnya menangani Jenna. Namun karena waktu itu dr. Handry sedang tidak ada jadwal praktek, aku baru berkonsultasi sekitar 3 hari selepas kejang keduanya itu.
Ternyata dr. Handry pun tidak bisa memberikan diagnosa tanpa ada hasil EEG. Sementara, EEG hanya efektif dilakukan setidaknya 24 jam setelah kejang. Sehingga kali itu, dokter Handry hanya meresepkan obat anti kejang Stesolid yang fungsinya menghentikan kejang dan penggunaannya dimasukan melalui anus. Selain itu beliau memberikan surat pengantar untuk melakukan EEG di RS. Eka Hospital jika sewaktu-waktu Jenna kejang lagi, sehingga EEG bisa langsung dilakukan setelah kejang tanpa perlu meminta lagi surat rujukan. Alhamdulilah setahun kembali berlalu tanpa kejang. Namun di bulan Oktober 2016, Jenna kembali mengalami kejang untuk ketiga kalinya. Dengan kondisi yang sama, ketika kami semua sedang tidur dan dia senang dalam kondisi flu yang berdahak banyak. Namun bedanya, kali ini selain kejang di bagian wajah, tangan kanannya juga ikut kejang. Kali ini kami lebih sigap sehingga sempat mereka adegan kejangnya kurang lebih satu menit. Setelah itu kami mencoba memuntahkan Jenna seperti dahulu ketika kejang kedua. Namun kali ini dahak yang keluar hanya sedikit. Dan kejangnya tidak berhenti. Teringat Stesolid yang ada di kotak obat, langsung kuambil dan untunglah belum expired. Ketika stesolidnya kuberikan lewat anus, memang efeknya tidak langsung terlihat. Tapi berhubung kita sudah panik, langsung kuputuskan untuk membawanya lagi ke UGD RS. IMC Bintaro. Sepanjang perjalanan, kejang di wajahnya mulai berhenti, tinggalkejang di tangannya. Dan sesampainya di RS, kejangnya hanya tinggal sedikit sekali dan Jenna seperti dalam keadaan lemas setengah sadar. Belakangan aku baru tahu kalau memang efek si stesolid itu membuat 'fly' penggunanya, sehingga tidak boleh diberikan lebih dari sekali dalam kurun waktu 24 jam.
DI RS, Jenna diberi oksigen dan di tes darahnya. Karena menurut dokter jaga-nya, dahaknya sangat banyak. Ketika hasil tes darah keluar ternyata memang kadar leukositnya di atas ambang batas normal sehingga dokternya membekali kami dengan antibiotik. Selain itu kami juga kembali dibekali dengan stesolid dan dianjurkan untuk berkonsultasi kembali dengan Dokter Spesialis Syaraf karena kejang tanpa demam bisa berpotensi epilepsi. Oya, di RS. IMC Bintaro, kami menggunakan BPJS kesehatan yang Alhamdulilah, untuk kasus emergency ini semuanya tercover sehingga kami tidak perlu membayar sepeser pun. Yang kalau harus membayar, aku lihat di kuitansinya bisa dikenakan biaya sekitar Rp600.000 rupiah. Oya, waktu itu kejangnya sempat di dokumentasikan. Bisa di cek di video ini ya:
Singkat cerita, keesokan harinya aku langsung membawa Jenna untuk EEG di RS. Eka Hospital. Setelah pagi harinya membuat janji via telpon, kami mendapat jadwal EEG ukul 2 siang. Oleh petugasnya diwanti-wanti agar anaknya jangan tidur dulu agar ketika EEG bisa tidur. Karena ternyata ketika EEG ada fase tidur yang harus dilalui. Yah, namanya bocah yang biasa tidur siang, baru jam 12 dia udah ngantuk berat. Udah aku paksa- paksa bangun yanga da dia merem sambil duduk. Kasian juga sih, jadi aku biarin tidur aja barang setengah jam. Alhamdulilahnya pas di EEG ternyata gak perlu tidur beneran, yang penting anaknya anteng gak gerak- gerak dan kalau bisa merem. Alhamdulilah Jenna koperatif walaupun mesti diceritain macem-macem biar dia anteng dan gak main-mainin kabel yang nempel di kepalanya. Oya, EEG di RS. Eka Hospital ini menghabiskan biaya sebesar Rp. 600.000 dan RS. Eka Hospital belum bekerjasama dengan BPJS. Jadi kalau mau EEG disini memang harus menggunakan dana pribadi atau asuransi lain yang bekerjasama :D
Hasil EEG bisa diambil besok sore-nya sekalian konsultasi dengan dr. Handry di klinik Anakku BSD. Alhamdulilah hasil EEG-nya normal. Namun memang ketika melihat video kejangnya Jenna, menurut dr. Handry itu memang kejang epilepsi. Namun karena tidak tampak di EEG dan jangka waktu antar kejangnya cukup lama, bisa jadi ini jenis epilepsi yang ringan dan mudah-mudahan akan hilang seiring dengan bertambahnya usia. Namun jika nanti kejang lagi dalam rentang waktu di bawah 6 bulan,baru akan dipertimbangkan penggunaan kembali OAE. Lalu reaksiku bagaimana? Ya, tidak bagaimana-bagaimana. Sama dengan reaksiku di artikel ketika dokter mendiagnosa Cerebral Palsy. Aku langsung mencari info tentang kejang tanpa demam dan bergabung di grup WhatsApp orang tua dengan anak penyandang epilepsi. Dan, lagi-lagi aku bersyukur bahwa kondisi Jenna jauh lebih baik dengan anak-anak penderita epilepsi lainnya. Dan apa yang kulakukan nggak ada seujung kukunya dengan yang sudah dilakukan oleh para orang tua hebat yang memiliki anak-anak spesial lainnya. Kesimpulannya, jika anak kita mengalami kejang tanpa demam, ada beberapa hal yang bisa dilakukan: 1. Stay calm. 2. Miringkan anak agar kalau ada air liur yang keluar tidak masuk ke jalur nafasnya. 3. Jangan menahan gerakan kejang, biarkan berhenti dengan sendirinya. PAstikan saja tidak ada benda-benda yang bisa membahayakan di sekitarnya. 2. Lihat lama kejang, kalau sudah lebih dari 5 menit dan belum berhenti, lebih baik gunakan stesolid atau obat anti kejang lainnya yang dimasukan lewat anus. Kalau tidak punya, langsung bawa ke Rumah Sakit. 3, Videokan kejangnya, agar bisa ditunjukan ke dokter jika mau berkonsultasi. 4. Kalau kejangnya berulang, catat durasi dan rentang waktu terjadinya, karena kejang tanpa demam yang berulang hampir bisa dipastikan adalah epilepsi. 5. Konsultasikan ke dokter syaraf jika jarak antar satu kejang ke kejangnya di bawah rentang 6 bulan. Itulah kira-kira pengalamanku menangani kejang tanpa demam yang terjadi dengan anakku. Memiliki anak dengan riwayat kejang juga? Yuk, berbagi di kolom komentar!
Kejang memang menjadi momok yang mengerikan terutama untuk orangtua yang memiliki anak balita. Bagaimana tidak, kejang bisa mengakibatkan...
Setelah tertunda selama beberapa bulan, akhirnya sempat juga menuliskan pengalaman melahirkan dengan BPJS untuk anak kedua saya. Bisa dibilang postingan ini merupakan postingan lanjutan dari postingan saya yang ini
Jadi akhirnya, setelah sebelumnya galau menentukan akan melahirkan di RS IMC Bintaro atau melahirkan RS Bunda Dalima, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di RS IMC Bintaro saja walaupun itu berarti harus naik kelas rawat inap jadi kelas I, karena ketika itu di RS ini belum tersedia ruang rawat inap kelas II.
Setelah mengurus surat rujukan dari puskesmas, di minggu ke-37, tepatnya di malam Kamis, saya kontrol ke dr. Tri Yuni SpOg di rumah sakit ini. Dokter Yuni mengecek ketebalan dinding rahim saya yang ternyata masih cukup tebal mengingat ketika melahirkan yang pertama saya tidak sempat mengalami kontraksi. Walaupun saya memiliki riwayat melahirkan secara sectio (SC), namun si dokter menyerahkan kepada saya, apakah mau melahirkan normal ataupun SC, yang tentu saja saya dan suami memilih option pertama, karena ketika itu kondisi si baby bagus, ketuban cukup, dinding rahim oke, secara keseluruhan kondisi saya dan janin sangat siap untuk melahirkan secara normal. Setelah itu, oleh Dokter Yuni saya diberi surat rujukan lanjutan untuk kontrol kembali seminggu lagi, surat kontrol ini diberikan supaya kita tidak perlu repot mengurus surat rujukan lagi ke puskesmas.
Karena itu pula di Sabtu pagi, saya langsung mengikuti senam hamil (pertama kalinya semasa kehamilan) untuk persiapan melahirkan normal. Niatnya sih biar gak 'bleng' amat, minimal tau cara ngeden itu gimana, hehehe.. Oya, saya senam hamilnya di RS. Premier Bintaro, itu yang paling deket rumah, tarifnya sekali datang Rp60.000, selama kurang lebih satu jam. Kalau ambil se-paket bisa lebih murah, kalau gak salah sekitar Rp400.000 sampai melahirkan. Disana, selain senam kita juga dikasi tips- tips lain dan boleh nanya apa saja seputar kehamilan sama instrukturnya yang juga merangkap perawat. Lumayan bisa menambah kepercayaan diri untuk yang belum pernah melahirkan normal seperti saya..
Sayangnya, takdir berkata lain (hedeuh..), malamnya, saya merasa ada yang aneh dengan si janin di perut. Biasanya dia aktif bergerak, entah kenapa, malam itu gerakannya pelan sekali, hampir tidak terasa. Ditambah ketika itu suami juga lagi dinas malam, jadi saya putuskan untuk tunggu sampai besok sambil melihat kondisi si janin lebih lanjut, siapa tahu memang kebetulan si janinnya sedang malas bergerak.
Ternyata sampai besok pagi pun, si janin masih belum ada gerakan yang signifikan, saya mulai panik dan ga tenang. Langsung siang itu saya dan suami pergi ke RS. IMC Bintaro. Karena ketika itu hari Minggu, jadi waktu itu yang menangani suster jaga. Dokter Yuni menginstrusikan lewat telepon untuk melakukan CTG pada janin saya. Dan setelah 15 menit, tidak ada gerakan apapun pada janin saya.
Dengan hasil CTG yang amat buruk itu, dokter langsung menyuruh saat itu juga suster mempersiapkan untuk operasi sementara si dokter menuju perjalanan ke sana. Kaget lah saya karena memang kami belum ada persiapan apapun. Saya minta ijin untuk pulang sebentar pun tidak diijinkan sama susternya. Akhirnya suami saya yang pulang untuk menyiapkan segalanya sementara saya disiapkan untuk menjalani operasi.
Oya, sebelum masuk ke ruang operasi, pihak RS memastikan lagi bahwa kani ingin naik kelas BPJS ke kelas I dan suami diharuskan membayar deposit sebesar Rp1.500.000.
Singkat cerita, tepat ketika itu adzan maghrib, operasi caesar saya yang kedua dilaksanakan. Dan, ternyata air ketuban saya sudah hijau. Itulah penyebab si janin tidak bergerak selama 2 hari. Ketika akhirnya dikeluarkan pun anak saya tidak langsung menangis dan langsung dimasukan inkubator untuk penanganan lebih lanjut.
Atharayyan Muhammad Al Ghazi
Alhamdulilah setelah dirawat di ruang bayi selama 5 hari, kondisi si baby semakin membaik dan dibolehkan pulang. Namun karena memang saya tidak mendaftarkan si bayi ke BPJS ketika masih di dalam kandungan, jadi untuk pembayaran si bayi menggunakan biaya pribadi, yang menghabiskan sekitar 5 juta rupiah.
Sementara untuk saya sendiri, karena ada permohonan naik kelas, diharuskan membayar biaya tambahan sebesar 2 juta rupiah. Yah, lumayan terjangkau sih untuk ukuran pelayanan kelas 1.
Kesimpulannya, menurut saya melahirkan di RS IMC Bintaro dengan menggunakan BPJS terbilang cukup baik pelayanannya. Dokter-dokternya pun bagus dan pro lahiran normal. Adapun kekurangan lain seperti antrian yang cukup panjang, dll, menurutku masih dalam batas wajar dan bisa di tolerir.
Setelah tertunda selama beberapa bulan, akhirnya sempat juga menuliskan pengalaman melahirkan dengan BPJS untuk anak kedua saya. Bisa dibila...
Ceritanya, hari ini saya mau mencoba cara menggunakan BPJS untuk melahirkan. Ini pertama kaliny saya menggunakan BPJS, karena saya berencana melahirkan anak kedua di RS. IMC Bintaro dengan menggunakan fasilitas BPJS, sementara selama ini kalau saya periksa kandungan kesana belum pernah menggunakan kartu BPJS karena memang harus mengurus rujukan lebih dahulu ke Puskesmas Jombang.
Faskes Jombang
Karena itu mumpung hari ini si suami lagi libur, dan memang sudah waktunya juga meriksain si calon bayi, saya berencana untuk mencoba periksa kandungan di Puskesmas Jombang, sekalian meminta rujukan juga untuk Jenna agar bisa di fisioterapi di rumah sakit. Jadi, setelah ijin ke kantor akan datang terlambat, langsung saya berangkat ke sana. Dengan berbekal pengetahuan seadanya hasil baca-baca mengenai cara menggunakan BPJS untuk melahirkan dari internet, saya berangkat dengan berbekal fotokopi kartu BPJS, KTP dan KK.
Antrian di Faskes Jombang
Saya datang jam setengah delapan pagi, agak kesiangan, sih, karena di depan loket BPJS sudah cukup banyak antrian walaupun loketnya masih tutup. FYI, seumur- umur baru kali ini saya masuk ke puskesmas jombang, tempatnya cukup bersih dan semua pengunjungnya harus lepas alas kaki kalau mau masuk.
Tepat jam delapan pagi, loketnya pun dibuka, saya langsung ambil nomor antrian dan dapat nomor 77. Tapi ternyata itu nomor antrian untuk pasien umum, untuk loket BPJS entah kenapa tidak ada nomor antrian. Jadi, langsung pada bergerombol di depan loket, kebanyakan ibu-ibu, sama-sama hamil pula. Hadeuh, alamat lama nih, pikir saya. Singkat kata dan cerita, setelah bersimbah keringat dan saling dorong sesama ibu hamil, tiba giliran saya di depan loket, ternyata cukup menyerahkan fotokopi kartu BPJS saja, tidak usah pakai embel-embel lain. Setelah itu si petugasnya langsung ngasih nomor antrian untuk klinik yang dituju.
Fotokopi Kartu BPJS dan KTP
Saya dapat nomor 9, sementara Jenna dapat nomor 7. Lumayanlah, pikir saya. Karena bayangan awal saya bakal dapet nomor puluhan mengingat yang datang sudah cukup banyak.
Lalu kami bertiga pergi di ruang tunggu dan ternyata kliniknya juga baru buka. Satu jam kemudian, yang dipanggil masih nomor 5 sementara udara disana mulai memanas karena emang nggak ada AC-nya. Jenna mulai gelisah, jadi saya suruh dia pergi ke klinik anak duluan saja sama si suami sementara saya menunggu antrian sendiri. Dua jam kemudian, antrian merayap ke nomor 7. Subahanalloh, satu pasien aja lama bener, ya, di dalam ngapain aja, pikir saya gemas.
Tepat jam 10.30, akhirnya tiba giliran saya. Tepat setelah Jenna juga selesai diperiksa. Jadilah kami bertiga masuk semua ke ruang bidan yang ternyata di dalamnya pun udaranya lebih pengap karena AC-nya mati. Seperti biasa, berat badan saya ditimbang, diukur tekanan darahnya dan ditanya pertanyaan standar mengenai riwayat melahirkan sebelumnya. Setelah itu giliran si jabang bayi diperiksa. Alhamdulilah, usia kandungan 30 weeks dan denyut jantung dan semuanya normal (ini yang jadi concern saya mengingat riwayat sebelumnya yang bermasalah di denyut jantung).
Ternyata yang ,membuat lama adalah, mereka mencatat satu persatu secara manual riwayat, keluhan, dll yang dialami oleh pasien. Jadi, semakin banyak keluhannya ya sepertinya akan semakin lama (gak tau juga apa nulisnya yang lama, soalnya sepertinya kalao di RS dicatat juga tapi mungkin tidak detail).
Dari situ juga dapat informasi bahwa nanti saya baru akan diberi rujukan RS jika usia kandungan sudah 36 weeks untuk bisa melahirkan di RS. Karena, sebagaimana informasi yang sebelumnya saya dapatkan dari dokter kandungan di RS. IMC Bintaro, pengguna BPJS dengan riwayat kehamilan operasi caesar memang pasti akan dirujuk ke RS karena puskesmas tidak mau mengambil resiko. Nanti disana bisa saja kita melahirkan secara normal. Namun, kalau info dari bidan sini, sih, biasanya RS juga tidak mau ambil resiko, jadi biasanya pasti akan dilakukan operasi caesar lagi. Walaupun info yang saya dapat dari dokter kandungan sana tidak begitu, kalau memang memungkinkan lahir normal yang akan diusahakan normal.
Setelah itu saya diresepkan vitamin berupa asam folat, kalsium dan penambah darah. Yang bisa diambil di apotik sebelah klinik sebelum kami pulang. Semuanya gratis.
Oya, untuk Jenna, dapat info dari perawatnya, ternyata walapun sudah dapat rujukan untuk fisioterapi, tapi kalau dilakukan di RS swasta yang tidak meng-cover fisioterapi, ya tetap harus bayar. Atau, ada RS swasta tertentu yang tidak meng-cover fisioterapi secara penuh jadi kita bayar setengahnya. Jadi memang harus pro-aktif nanya dulu ke RS swasta yang dituju, apakah meng-cover perawatan yang kita inginkan. Kecuali kalau fisioterapi-nya dilakukan di RSUD, baru bisa full gratis.
Begitulah pengalaman pertama saya menggunakan BPJS di faskes 1 Puskesmas Jombang. Ternyata cara menggunakan BPJS untuk melahirkan cukup mudah. Berarti langkah selanjutnya tinggal cari info lebih lanjut menyenai pemakaian BPJS di RS IMC bintaro. Karena selama ini kalau kesana cuma periksa-periksa aja, gak pernah nanya prosedur penggunaannya, apa saja yang ditanggung dan bagaimana jika ingin pindah kelas.
Alhamdulilah, setelah 2 minggu menunggu, akhirnya sepatu koreksi/sepatu ortopedi untuk kaki Jenna selesai juga (Emaknya udah gak sabar pengen makein :D)
Penantian yang berasa lama karena sebelumnyapun kami sudah survey kesana kemari demi bisa mendapatkan harga yang cukup murah (khas emak- emak banget, ya :p).
Maklumlah karena harga sepatu ini cukup mahal untuk ukuran kami. Ketika pertama kali dokter anak Jenna merekomendasikan pemakaian sepatu untuk kaki jinjitnya, beliau memberikan nomor kontak lokasi pembuatan sepatu ini, namun harga yang diberikan cukup membuat saya garuk- garuk tembok.
Harga sepasang sepatu di tempat rekomendasi awal, mencapai Rp800.000 sepasang. Cukup mahal, kan? Kalau bisa dipakai untuk jangka waktu yang lama, sih, mungkin tidak terlalu masalah. Namun berhubung sepatu ini di desain spesifik ukuran kaki, jadi harus diganti setiap beberapa bulan sekali menyesuaikan dengan ukuran kaki pamakainya (maksimal penggunaan 6 bulan).
Jadilah saya dan papanya Jenna survey kesana kemari mencari lokasi pembuatan sepatu termurah. Alhamdulilah, salah seorang rekan saya yang berprofesi sebagai perawat merekomendasikan pembuatan sepatu di tempatnya bekerja, RS. Siaga Raya Pejaten, yang memang merupakan rumah sakit khusus Ortopedi. Disana kami bisa mendapatkan sepatu koreksi ini dengan harga jauh lebih murah, sekitar Rp350.000 sepasang (lumayan banget, kan?)
Kalau ada yang mau tau, sepatu koreksisepatu ortopedi itu apa, ya? (gak mau tau juga gak apa apa, sih :p). Sepatu ini direkomendasikan oleh terapisnya Jenna, karena sudah memasuki usia 20 bulan, namun Jenna tak juga lancar berjalan. Kaki kanannya jijit, sehingga jalannya sulit seimbang dan tertatih- tatih. Selain itu, ternyata kaki Jenna adalah jenis flat foot, dimana cekungan di bawah kakinya cenderung datar sehingga berdampak pada keseimbangannya.
Nah, sepatu koreksi/sepatu ortopedi ini memiliki "sabuk mini" yang melintang di bagian pergelangan kaki, berfungsi menarik bagian pergelangan agar tidak bisa jinjit ketika melangkah. Selain itu, ada bantalan yang lumayan padat tepat di lokasi dimana seharusnya terdapat cekungan pada telapak kaki. Yang lucu lagi, khusus untuk Jenna, penggunaannya harus terbalik, karena telapak kaki Jenna agak melebar keluar. Jadi kalau pertama kali lihat Jenna pakai, mungkin sedikit aneh karena memakai sepatu terbalik.
Awalnya, sempat khawatir Jenna tidak mau pakai sepatu ini. Alhamdulilah, anaknya malah girang banget dapat sepatu baru. Mengenai pengalaman Jenna memakai sepatu barunya ini, tunggu di postingan saya selanjutnya, ya :D
UPDATE:
Nggak sempet-sempet bikin postingan tentang pengalaman pakai sepatu ortopedi, sampai akhirnya udah pembelian Sepatu Ortopedi ketiga baru bisa nulis lagi tentang ini. Bisa baca ceritanya disini.
Atau kalau yang mau langsung lihat video Jenna saat pakai sepatu ini, bisa tonton disini: